![]() |
Sosok wanita yang gagal seleksi CPNS meski dapat nilai tertinggi. (Foto: Istimewa) |
Banyuwangi Terkini – Nasib pahit harus diterima oleh Tri Cahyaningsih (32), seorang buruh pabrik asal Boyolali, Jawa Tengah. Mimpinya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) kembali kandas setelah gagal dalam seleksi CPNS Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) 2024. Bukan karena nilai ujian yang kurang, melainkan hanya karena tinggi badannya kurang 0,5 sentimeter dari syarat minimal.
Tri, yang telah mengikuti seleksi CPNS sebanyak tiga kali sejak 2017, sebenarnya berhasil meraih skor tertinggi dalam Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS Kemenkumham Jawa Tengah tahun ini. Ia mencatatkan nilai 476 dengan rincian Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) 120, Tes Intelegensia Umum (TIU) 155, dan Tes Karakteristik Pribadi (TKP) 201. Namun, saat tahap verifikasi fisik, ia dinyatakan tidak memenuhi syarat karena tinggi badannya kurang 0,5 cm dari batas minimal yang ditetapkan.
Perjalanan Panjang Mengejar Mimpi
Tri Cahyaningsih bukan pertama kali mengikuti seleksi CPNS. Sejak 2017, ia telah berusaha mengincar posisi sebagai penjaga tahanan di Kemenkumham. Pada percobaan sebelumnya, ia terhenti di tahap tes kesamaptaan yang menguji stamina dan kesiapan fisik.
Pada tahun 2024, ia kembali mencoba peruntungan dengan persiapan lebih matang. Keberhasilannya meraih skor tertinggi dalam SKD CPNS Kemenkumham sempat viral di media sosial dan menjadi perbincangan hangat. Banyak yang mengapresiasi perjuangannya, namun kenyataan pahit harus diterimanya saat pengukuran tinggi badan menjadi penghalang utama.
Tak Menyerah Mengejar Status ASN
Meski mengalami kegagalan yang menyakitkan, Tri Cahyaningsih tetap bertekad untuk tidak menyerah. Ia menegaskan bahwa impiannya menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) tidak akan berhenti di sini. Dukungan dari keluarga dan warganet membuatnya semakin semangat untuk terus mencoba di seleksi berikutnya.
Kisah Tri menjadi sorotan publik dan memicu diskusi terkait aturan seleksi CPNS, khususnya mengenai syarat tinggi badan yang kerap menjadi batu sandungan bagi banyak peserta berprestasi.
Kegagalan Tri Cahyaningsih dalam seleksi CPNS Kemenkumham 2024 menjadi potret perjuangan yang penuh liku. Meski telah membuktikan kemampuannya dengan meraih skor tertinggi, ia tetap tidak lolos karena aturan tinggi badan. Perjuangannya memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk tidak menyerah dalam mengejar impian, meskipun menghadapi tantangan yang berat.
Bagaimana menurut Anda? Haruskah aturan tinggi badan dalam seleksi CPNS lebih fleksibel bagi mereka yang memiliki kompetensi tinggi?***